Encrypting your link and protect the link from viruses, malware, thief, etc! Made your link safe to visit.

Mengenal Kitab Kuning Ala Listyo: Karya Ulama Non-politis

PBNU menyebut kitab kuning merupakan karya para ulama salaf yang bebas dari unsur politis, pertentangan antar-aliran, yang mencakup berbagai bidang ilmu.

Kitab Kuning merupakan istilah nusantara bagi karya para ulama salaf yang jauh dari unsur politis dan subjektivitas. Temanya terbentang dalam berbagai bidang keilmuan, dari fikih, akidah, etika, hingga politik.

Sebelumnya, calon Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengatakan akan mewajibkan anggota Polri untuk mengkaji kitab kuning.

"Seperti dulu di Banten, saya sampaikan anggota wajib belajar kitab kuning," kata dia, dalam uji kepatutan dan kelayakan calon Kapolri, pada Rabu (20/1) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Lantas apa itu kitab kuning?

Rais Syuriah PBNU Masdar Farid Mas`udi menjelaskan kitab kuning merupakan kitab-kitab yang dikaji di banyak pesantren. Umumnya, kitab-kitab tersebut dicetak menggunakan kertas berwarna kuning.

"Istilah kitab kuning sebenarnya istilah nusantara itu," ujarnya, saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Kamis (21/1) malam.

Kitab kuning, kata dia, berisi pemikiran, penafsiran, dan pemahaman para ulama salaf terhadap prinsip-prinsip islam berikut detailnya. Ulama salaf sendiri merujuk pada intelektual muslim yang hidup pasca generasi ketiga pengikut nabi.

"Kitab kuning itu kitab yang berisikan pemikiran, interpretasi, dan pemahaman para ulama terkait dengan prinsip-prinsip Islam maupun detail-detailnya," jelas Masdar.

Kalangan pesantren, kata Masdar, menilai kitab-kitab yang ditulis oleh generasi tersebut cenderung tidak terpengaruh oleh konflik, gejolak politik, serta gesekan antar-aliran ketuhanan dan kelompok dalam Islam. Pada masa itu, konflik antar pemahaman dalam Islam belum banyak bermunculan.

"Ulama salaf itu menjauhi konflik-konflik yang bersifat subjektif, politik, apalagi berkaitan dengan perebutan kekuasaan," jelas Masdar.

Orang-orang yang termasuk dalam generasi ini antara lain imam empat mazhab, yakni Imam Syafi`I, Maliki, Hanbali, dan Hanafi.

Adapun kitab kuning memuat berbagai bidang keilmuan seperti, syariat (hukum islam), akhlak (moral), tasawuf, dan akidah (ketuhanan).

Menurut Masdar, semua bidang ilmu tersebut penting. Contohnya, tanpa ilmu syariat orang bisa tersesat. Akidah juga penting untuk dipahami dengan benar. Jika keliru, itu bisa menyebabkan kemusyrikan atau kekufuran.

Sementara, kata dia, pengetahuan akhlak juga sangat penting karena menjadi keluaran keislaman seseorang.

"Karena akhlak itu ujung muara dan pembuktian dari apakah orang itu betul-betul Islam atau tidak, itu pada akhlaknya, perilakunya, pada etikanya," terang lulusan program pascasarjana Studi Filsafat, Universitas Indonesia ini.

Selain bidang tersebut, terdapat bidang siyasah atau politik yang juga dikaji di lingkungan pesantren. Masdar mengatakan, arah dari kajian politik ini adalah bagaimana mengkondisikan dan memastikan suatu kekuasaan benar-benar melayani rakyat demi keadilan sosial.

Siyasah Islam mengajarkan dalam menjalankan kekuasaan tidak diperbolehkan terdapat diskriminasi terhadap kelompok tertentu karena agama, mazhab, partai, suku, dan ideologi yang berbeda.

"Jadi harus inklusif, penguasaan pemerintah harus inklusif," ucap dia, yang juga mantan jurnalis pada masa Orde Baru ini.

Berjenjang

Dalam lingkungan pesantren, pendidikan keagamaan dilakukan secara berjenjang. Dilansir dari situs NU Online, terdapat beberapa judul kitab dasar yang menjadi rujukan utama yang umumnya ditulis ratusan tahun lalu.

Pertama, kitab Al Ajurumiyah karya Syekh Sonhaji pada abad ke 7 hijriah/13 Masehi. Kitab ini menjadi rujukan dalam mempelajari dasar-dasar ilmu nahwu yang mengkaji gramatika Bahasa Arab.

Ilmu ini mempelajari bahasa dari struktur yang paling dasar seperti jenis kata, kalimat, kedudukan kalimat, hingga konteks dalam suat bahasa. Orang-orang di lingkungan pesantren kerap menyebut ilmu ini sebagai kunci untuk memahami pengetahuan.

Setelah menghafal dan mempelajari kitab ini, pada umumnya para santri akan mengkaji kitab Al Imrity yang berisi 250 bait syair-syair dalam Bahasa Arab.

Pada jenjang selanjutnya, santri akan menghafal dan mengkaji kitab Al Fiyyah Ibnu Malik yang terdiri dari 1001 bait dalam Bahasa Arab.

Kedua, kitab Amtsilah at Tashrifiyah, karya ulama asal Indonesia, KH. Ma`shum `Aly dari Jombang. Kitab ini merupakan bagian dari ilmu shorof.

Orang-orang di lingkungan pesantren kerap menyebut ilmu ini sebagai ibu dan ilmu nahwu sebagai bapak. Seorang pelajar harus menguasai dua bidang ilmu ini agar bisa menguasai Bahasa Arab dengan baik.

Ilmu shorof sendiri mengkaji tentang bentuk-bentuk kata kerja yang dalam Bahasa Inggris disebut grammar. Ilmu Selain mengkaji berbagai bentukan kata kerja sekarang, lampau, dan akan datang, ilmu ini juga mengkaji tentang perubahan-perubahan makna seiring perubahan bentuk kata.

Ketiga, kitab Mustholah Hadits. Kitab ini merupakan bagian dari bidang kajian seluk beluk ilmu hadits. Beberapa hal yang dikaji di antaranya jenis-jenis hadits, jenis periwayat, syarat periwayat, dan lainnya.

Hal-hal tersebut merupakan indikator dalam menentukan apakah suatu hadits bisa dikatakan shahih (benar) atau palsu. Derajat suatu hadits sangat menentukan penggunaannya, misal dalam proses produksi hukum.

Kitab ini dikarang oleh al-Qodhi abu Muhammad ar-Romahurmuzi atas instruksi Khalifah Umar Bin Abdul Aziz karena banyaknya hadits palsu yang beredar di masyarakat.

Keempat, kitab Arba`in Nawawi. Kitab ini merupakan kitab yang berisi kumpulan hadits tematik. Kitab karangan Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri Al Nizami An-Nawawi ini memuat dasar-dasar Islam, seperti apa itu iman, islam, serta ihsan.

Kelima, kitab Aqidatul Awam. Kitab ini merupakan salah satu refrensi dasar bidang ilmu teologi atau akidah. Kitab ini terdiri dari 57 bait dalam bahasa arab yang dikarang oleh Syaikh Ahmad Marzuqi Al-Maliki.

Keenam, kitab Ta`limul Muta`alim. Kitab yang dikaji hampir di seluruh pesantren ini berisikan panduan agar penuntut ilmu bisa berhasil menjadi seorang alim.

Kitab karangan Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji tersebut salah satunya menekankan etika bagi seorang pelajar dan intelektual.